Subscribe:

Pages

Selasa, 24 Juli 2012

Telinga Kemasukan Air Saat Puasa. Batal Nggak ya?

Arif : “hai Nabil…”
Nabil : “ hmm…hai”
Arif : “lho puasa  kok kamu lemes gitu….?”
Nabil: “ iya nih,,, puasa kali ini cuacanya panas buangettt… bikin lemes dan kurang semangat. Hmm”
Arif : “ mandi aja biar segar, biar semangat lagi bil”
Nabil : “ emm… betul juga, gimana kalo Q-ta mandi di sungai ?”
Arif : “seru tuh. ayoh… boleh juga “
Mereka pun pergi  berenang , menyelam serta bermain-main air di sungai.
picture
“ bil, gimana? Segarkan kan…!” Tanya arif.
Nabil : “betul Rif, suegarrrr  serasa tumbuh semangat baru nih…..”
Saking Asyiknya, tiba-tiba telinga Nabil kemasukan air.
“ Duuhhhh… telingaku kemasukan air, gimana nih puasaku? Batal apa nggak ya?” kata Nabil sambil memegang telinganya.
Arif : “ tenang aja bil, kan nggak sengaja, jadi puasa kamu nggak batal dah”
Nabil :  ‘o…. gitu ya…”
Arif : “ setahuku sieh gitu….”
Di tepi sungai tak  sengaja ada Hilmy yang mendengar percakapan mereka. Merasa jawaban Arif kurang tepat, ia berkata pada mereka berdua “ ngaji lagi kang… ngaji lagi…”
Lalu mereka pun terdiam setelah mendengar sahutan temannya yang bernama hilmy tadi.


~*~



Kejadian serupa mungkin pernah dialami oleh kita atau mungkin pada saudara kita atau teman kita  yaitu kemasukan air saat mandi padahal dalam keadaan puasa. Yang namanya kemasukan. So, berarti tidak dilakukan secara sengaja, tau-tau masuk begitu saja tanpa permisi ( kayak tamu tak diundang aja…hehe). Kalau sengaja memasukkan air ke dalam jauf (rongga) semisal telinga, itu mah sudah pasti batal. Lalu bagaimana dengan masuknya air saat mandi tanpa disengaja? Batalkah puasanya?.
Hukum mengenai hal ini diperinci sebagai berikut: 
  • Jika mandi yang dilakukan itu Ma’murun bihi (diperintahkan oleh syara’) yakni mandi wajib (jinabat) atau mandi sunnah, maka puasanya TIDAK BATAL dengan syarat mandinya tidak dilakukan dengan menyelam atau selulup, kata orang jawa.
  • Jika mandi yang dilakukan itu Ghoiru ma’murin bihi (tidak diperintahkan oleh syara’) misalnya hanya sekedar membersihkan badan (tandzif) atau sebagai penyegar tubuh (tabarrud), maka puasanya BATAL sekalipun mandinya tidak dilakukan dengan cara menyelam.

Dari ilustrasi kisah diatas, Bisa diambil kesimpulan bahwa puasanya Nabil adalah Batal sebab ia mandi hanya sekedar untuk penyegar tubuh (tabarrud). Walaupun Puasa Nabil telah batal, ia tetap dibebani untuk imsak (menahan hingga waktu berbuka), tidak boleh seenaknya makan minum apalagi dilakukannya dengan terang-terangan. Wallahu A’lam.



11 komentar:

  1. waaaaahhhh......memang segala sesuatuitu ada ilmunya ya ustadz...lndah memang kalau punya ilmunya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. benar sobat... ilmu adalah cahaya. kalau kita punya ilmu, maka hidup kita terang bercahaya.

      Hapus
  2. Adus gone Mbah Selo, enake sambil selulup. Soale kolahe guedhe bianget. Hehe... **nasibe wong ra duwe kolah. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dang gae kulah o.... ben babel kalo brangkat sekolah iso adus nang kolah.he

      Hapus
  3. cerita yang seperti ini itu waktu aku masih kecil pas bulan puasa selalu menjadi trending topic bagi anak2 yang bermain dan mengaji di musollah .... :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah kalau tau gitu dari awal, nama pemeran cerita diatas aku buat dengan nama Sinna Saidah Az-zahra saja, biar tambah keinget waktu kecilnya.hehe

      Hapus
  4. http://indo.hadhramaut.info/view/3631.aspx

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih atas link yang anda berikan. ada yang aneh dalam penjelasannya.
      1. pada kalimat "Orang tersebut puasanya tidak batal, hal ini apabila mandi orang tersebut mandi wajib atau sunnah,kemudian ada hal yang masuk ke dalam tubuh orang tersebut baik melalui telinga atau mulut dan lainnya, maka hal ini tidak membahayakan puasanya DENGAN SYARAT DIA TIDAK BERLEBIHAN KETIKA BERKUMUR ATAU MEMBERSIHKAN HIDUNGNYA"

      KOMEN SAYA: INI TIDAK TEPAT, masak MANDI sangkut paut syaratnya dengan BERKUMUR.hehe.SEHARUSNYA DALAM KONTEKS MANDI DIBEDAKAN DENGAN HUKUM BERKUMUR.
      2.pada kalimat "Apabila mandi orang tersebut bukanlah mandi wajib dan juga bukan mandi sunnah tapi mandi untuk menghilangkan najis baik itu dari telinganya atau yang lainnya "

      KOMEN SAYA: " yang najis kan telinganya? atau yang lain dr telinga (misal mulut)?KENAPA MANDI SEGALA??hehe. menurut saya, inipun tidak tepat. Seharusnya ia tidak perlu mandi melainkan ia cukup berkewajiban membasuh bagian yang terkena najis.

      masih lanjutan nomor 2 perhatikan kalimat "kemudian sampai kemasukan air tanpa di sengaja maka hal ini tidak membatalkan puasanya dengan syarat air atau benda tersebut masuk dengan tanpa disengaja"

      KOMEN SAYA: ngapain ada kalimat DENGAN SYARAT AIR s/d DENGAN TANPA DISENGAJA?? kan kan kalimat sebelumnya sudah ada kata-kata "kemudian kemasukan air TANPA DISENGAJA" ngapain pake syarat segala??hehe.

      3. ah nomor 3 sebetulnya jg mau saya kritisi tp nanti malah tambah kebanyakan tulisan disini.hehe.

      Walhasil, hukum terlanjurnya kemasukan air ketika berkumur dan pembasuhan najis pada telinga atau anggota lain, itu BERBEDA DENGAN HUKUM MANDI. insyaallah akan saya buat postingan mengenai kedua hal tersebut.

      Hapus
  5. pa'.... kalo ngga' sengaja kemasukan air berarti batal, biasanya ni pak kalo telinga kemasukan air cara ngilanginya dimasuki air lagi, ben ora mbudegki kuping. la kalo telinga kemasukan semut gimana pak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. gak batal pak. tu kasian semutnya, gak tau jalan pulang sampe2 masuk ke telinga segala. ^-^

      Hapus
  6. Hukum mandi biasa di waktu puasa itu benang apa makruh

    BalasHapus

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

komentar terbaru