Subscribe:

Pages

Tampilkan postingan dengan label kisah hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah hikmah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 29 Oktober 2015

5 Pesan Nabi kepada Abu Hurairah

Suatu hari Rasulullah bertanya kepada para sahabat, “Siapa yang mau mengambil kalimat-kalimat dariku lalu ia amalkan atau mengajarkan orang yang mau mengamalkannya?”

Dari tengah majelis, terdengar suara seseorang menyahut, “Saya, wahai Rasulullah!”

Siapakah orang itu? Dialah Abu Hurairah. Rasulullah lalu mendekati Abu Hurairah dan memegang tangannya. Kemudian beliau menyebutkan lima nasihat berikut.


1.     Jauhilah hal-hal yang haram, niscaya engkau akan menjadi orang yang paling baik ibadahnya.
اتَّقِ المَحَارِمَ تَكُنْ أعْبَدَ النَّاسِ


2.    Ridhalah terhadap apa pun yang Allah karuniakan kepadamu, niscaya engkau akan menjadi orang yang paling berkecukupan.
وَارْضَ بِمَا قَسَمَ اللهُ لَكَ تَكُنْ أغْنَى النَّاسِ

3.    Berbuat baiklah kepada tetanggamu, niscaya engkau akan menjadi mukmin sejati.
وَأَحْسِنْ إِلَى جَارِكَ تَكُنْ مُؤْمِنًا


4.    Cintailah manusia sebagaimana kamu mencintai dirimu sendiri, maka kamu akan menjadi seorang muslim.
وَأَحِبَّ لِلنَّاسِ مَا تَحُبُّ لِنَفْسِكَ تَكُنْ مُسْلِمًا


5.    Janganlah banyak tertawa, karena banyak tertawa dapat mematikan hati.” (HR. At-Tirmidzi)

وَلَا تُكْثِرِ الضَّحِكَ فإنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيْتُ القَلْبَ


Rabu, 29 Januari 2014

Mbah Arwani Teladani Kelembutan Akhlak Nabi

gambar
Grobogan, NU Online
Awal KH Arwani mendirikan pondok thariqah di Desa Kwanaran, Kudus, ada seseorang yang tak suka dengan kiai pakar Al-Qur’an tersebut. Suatu ketika, ketaksukaannya dilampiaskan  pada secaris kertas berisi hinaan yang ditempelkan di pondok tempat suluknya para santri.

Saat para santri mengetahui tulisan hinaan tersebut, bergegaslah mereka melaporkan kejadian tersebut kepada Kiai Arwani dengan harapan ia memberi izin agar tulisan itu dicopot dan dirobek.

Para santri itu mendapat jawaban yang tak diharapkan. “Jarke wae tulisane, seng nulis ben seneng disik (biarkanlah dulu tulisan itu, supaya orang yang menulis tulisan tadi merasa senang),”

Tanggapan Kiai Arwani ditirukan Kiai Imron Hasani, Mustasyar Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Tawangharjo kepada NU Online, pada ngaji selapanan di Kompleks Ponpes Al-Hidayah, Grobogan, Jawa Tengah,(27/1).

Dalam taushiyahnya, Kiai Imron mengisahkan sosok Mbah Arwani yang meniru dan meneladani akhlak nabi Muhammad yang begitu lembut.

“Berbuat baik kepada orang yang telah berlaku baik kepada kita, itu wajar. Namun, bila kita bebuat baik dan berlemah lembut kepada orang yang telah berlaku jahat kepada kita, itu baru sebuah kemuliaan akhlak,” terangnya.

“Rasulullah terlalu sering dihina, dicaci maki bahkan dilempari kotoran hewan oleh orang kafir, namun rasulullah tetap bersikap lembut dan tidak mau membalasnya,” imbuhnya.

Para hadirin yang datang pada pengajian itu berasal dari berbagai desa di kecamatan Tawangharjo, diantaranya adalah Ngrukem, Gentan, dan Sirahan. Sebelum taushiyah, para peserta ngaji selapanan diajak terlebih dahulu menggemakan Maulid Ad-diba’i. 
(Kontributor : Asnawi Lathif/ Redaktur : Abdullah Alawi)

Jumat, 17 Januari 2014

Membaca Al-qur'an Untuk Mayit, Bid'ahkah?

Syaikh Hasan Jabar, beliau adalah guru besar, dosen tafsir dan ilmu Tafsir di Universitas al-Azhar serta pengajar di Masjid al-Azhar.

Syaikh Hasan Jabar pada kuliahnya di Masjid al-Azhar hari Ahad kemarin memberikan penjelasan yang ciamik perihal bacaan al-Quran yang dihadiahkan kepada mayyit. Berikut percakapan beliau dengan kami para muridnya.

Syaikh Hasan Jabar: “Semua orang mati itu dikatakan mayyit kan? Baik yang sudah dikubur maupun yang hendak dikubur?”

Kami: “Iya, Syaikh.”

Syaikh Hasan Jabar: “Bukankah Rasulullah Saw. melakukan shalat Jenazah?”

Kami: “Iya, Rasulullah Saw. melakukannya.”

Syaikh Hasan Jabar: “Takbir pertama saat shalat Jenazah, apa yang dibaca?”

Kami: “Surat al-Fatihah, Syaikh.”

Syaikh Hasan Jabar: “Surat al-Fatihah itu termasuk dari al-Quran tidak?”

Kami: “Termasuk dari al-Quran, Syaikh.”

Syaikh Hasan Jabar: “Lha iya, Rasulullah Saw. sendiri membacakan al-Quran kepada mayyit. Kok iya ada sebagian orang yang bangga mengatakan hal itu bid’ah dan sesat. Justru merekalah yang membid’ahkan dan menyesatkan Rasulullah Saw. Dan merekalah yang sejatinya melakukan bid’ah.”

Syaikh Hasan Jabar menambahkan: “Sebarkan dan sampaikan ini kepada orang lain agar umat kita bisa bersatu lagi dan selamat dari propaganda mereka.”

(Oleh: Gus Mas Yaqien, salah satu murid Syaikh Hasan Jabar yang waktu itu turut hadir mengikuti pengajian di Masjid al-Azhar).
Sumber : www.muslimedianews.com

Minggu, 24 November 2013

Enaknya Curhat Sama Siapa Ya?

Pagi-pagi belajar kitab nashoihul ibad sob... biar nambah ilmu n hidup kita makin berkah. Yuk.....1,...2,....3.....
bismillahirrahmanirrahim
Maqolah31

Diriwayatkan dari Nabi SAW, sesungguhnya Beliau bersabda, “Barang saiapa yang pada waktu pagi hari (memasuki waktu subuh) dalam keadaan mengadu kepada manusia tentang kesulitan hidupnya, maka seakan-akan ia telah mengadukan Tuhannya.
 

“Sesungguhnya pengaduan selayaknya hanya kepada Allah karena pengaduan kesulitan hidup kepada Allah termasuk do’a. adapun mengadu kepada manusia menunjukkan tidak adanya ridha dengan pembagian Allah Ta’ala sebagaimana diriwayatkan dari AbdiLlah bin Mas’ud RA, telah bersabda RasuluLlah SAW, “Maukah kamu semua aku ajari sebuah kalimat yang diucapkan Musa AS ketika melintasi lautan bersama bani israil ?“.
 gambar
Kami semua menjawab ,”Baik Yaa RasuluLlah”.
RasuluLlah SAW bersabda,”Ucapkanlah kalimat ‘Allahumma laKal hamdu wa ilaiKal Musytakay wa Antal Musta’aan wa laa haula walaa quwwata illa biLlahil ‘Aliyyil ‘Adhiim” (Yaa Allah segala puji hanya untuk-Mu, dan hanya kepadamulah tempat mengadu, dan Engkaulah Penolong dan tiada daya upaya dan kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah Dzat Yang Maha Tinggi dan Maha Agung. Maka berkatalah Al-A’masy, Tidaklah kami pernah meninggalkan membaca kalimat tersebut sejak kami mendengarnya dari Syaqiq Al-Asady Al kuufy.

Barang siapa pada waktu pagi hari berduka atas perkara duniawi, maka sesungguhnya ia telah marah kepada tuhannya. Artinya, barang siapa yang bersedih karena urusan dunia, sesungguhnya ia telah marah kepada Tuhannya, karena ia tidak ridha dengan qadha’ (takdir Allah) dan tidak bersabar atas cobaan-Nya dan tidak beriman dengan kekuasaan-Nya. Karena sesungguhnya apa saja yang terjadi di dunia ini adalah atas qadha Ilahi Ta’ala dan atas kekuasaan-Nya.

Dan barang siapa yang merendahkan diri kepada orang kaya karena melihat kekayaannya, maka hilanglah 2/3 agamanya. Artinya bahwa disyari’atkannya penghormatan manusia kepada orang lain adalah karena alasan kebaikan dan ilmunya bukan karena kekayaannya. Karena sesungguhnya orang yang memuliakan harta, sesungguhnya ia telah menyia-nyiakan ilmu dan amal shaleh.

Telah berkata Sayyidy Syaikh Abdul qadir Al-Jailany RA, “Tidak boleh tidak bagi seorang muslim pada setiap keadaannya selalu dalam tiga keadaan, yang pertama melaksanakan perintah, kedua menjauhi larangan, dan ketiga ridha dengan pembagian Tuhan.” Dan kondisi minimal bagi seorang mukmin adalah tidak terlepas dari salah satu dari tiga keadaan tersebut di atas, 

Semoga bermanfaat bagi saya pribadi dan para pembaca. Amin...

Rabu, 20 November 2013

Sombong VS Tawadlu'

Awal kali manusia lahir di dunia ini adalah tak punya dan tak membawa sesuatu apapun. Seiring bertumbuhnya usia, seakan merasa memiliki keistimewaan pada diri, entah keistimewaan itu berupa ilmu, harta, nasab, dan lain sebagainya. Karena itu, bertanyalah pada diri kita, apakah hati kita terselib rasa merasa memiliki keistimewaan? Adakah setitik kesombongan pada diri kita? yuk..... kita menelisik lebih lanjut kisah berikut ini, semoga kita
bisa mengambil i'tibar. Amin....

Suatu hari di tepi sungai Dajlah, Hasan al-Basri melihat seorang pemuda duduk berdua-duaan dengan seorang perempuan. Di sisi mereka terletak sebotol arak. Kemudian Hasan berbisik dalam hati, “Alangkah buruk akhlak orang itu dan alangkah baiknya kalau dia seperti aku!”

Tiba-tiba Hasan melihat sebuah perahu di tepi sungai yang sedang tenggelam. Lelaki yang duduk di tepi sungai tadi segera terjun untuk menolong penumpang perahu yang hampir lemas karena karam. Enam dari tujuh penumpang itu berhasil diselamatkan.

Kemudian dia berpaling ke arah Hasan al-Basri dan berkata, “Jika engkau memang lebih mulia daripada saya, maka dengan nama Allah, selamatkan seorang lagi yang belum sempat saya tolong. Engkau diminta untuk menyelamatkan satu orang saja, sedang saya telah menyelamatkan enam orang.”

Bagaimanapun Hasan al-Basri gagal menyelamatkan yang seorang itu. Maka lelaki itu bertanya padanya. “Tuan, sebenarnya perempuan yang duduk di samping saya ini adalah ibu saya sendiri, sedangkan botol itu hanya berisi air biasa, bukan anggur atau arak.”

Hasan al-Basri tertegun lalu berkata, “Kalau begitu, sebagaimana engkau telah menyelamatkan enam orang tadi dari bahaya tenggelam ke dalam sungai, maka selamatkanlah saya dari tenggelam dalam kebanggaan dan kesombongan.”

Lelaki  itu menjawab, “Mudah-mudahan Allah mengabulkan permohonan tuan.”

Semenjak itu, Hasan al-Basri semakin dan selalu merendahkan hati bahkan ia menganggap dirinya sebagai makhluk yang tidak lebih daripada orang lain.

Dari kisah diatas, yuk mari bermujahadah menghilangkan kesombongan pada diri dan merubahnya dengan akhlak ketawadlua’an, Merunduk bagai ilmu padi. Semoga Allah menjaga kita semua dari buruknya sifat sombong. Amin....

Jumat, 21 Desember 2012

Jadilah Manusia Rendah Namun Tidak Rendahan

mundut gambar
Imam, Ali r.a pernah berkata :
1. Jadilah manusia yang paling BAIK disisi Allah
2. Jadilah manusia yang paling BURUK dalam pandangan dirimu
3. Jadilah manusia BIASA dalam pandangan Orang lain

Syeh Abdul Qadir Jaelani berkata : “ Bila engkau bertemu dengan seseorang , hendaknya engkau memandang dia itu lebih utama daripada dirimu dan katakan dalam hatimu :
“Boleh jadi dia lebih baik disisi Allah daripada diriku ini dan lebih tinggi derajatnya.

Jika orang yang lebih kecil dan lebih muda umurnya daripada dirimu , maka katakanlah dalam hatimu : “ Boleh jadi orang kecil ini tidak banyak berbuat dosa kepada Allah, sedangkan aku adalah orang yang telah banyak berbuat dosa , maka tidak diragukan lagi kalau derajat dirinya jauh lebih baik daripada aku.”

Bila dia orang yang lebih tua , hendaknya engkau mengatakan dalam hati :”Orang ini telah lebih dahulu beribadah kepada Allah daripada diriku”.

Jika dia orang ‘Alim , maka katakan dalam hatimu :” Orang ini telah diberi oleh Allah sesuatu yang tidak bisa aku raih, telah mendapatkan apa yang tidak bisa aku dapatkan, telah mengetahui apa yang tidak aku ketahui, dan telah mengamalkan ilmunya”.

Bila dia Orang Bodoh, maka katakan dalam hatimu : Orang ini
durhaka kepada Allah karena kebodohannya, sedangkan aku durhaka kepada –NYA , padahal aku mengetahuinya. Aku tidak tahu dengan apa umurku akan Allah akhiri atau dengan apa umur orang bodoh itu akan Allah akhiri (apakah dengan husnul khaitimah atau Su’ul khatimah).

Bila dia orang kafir , maka katakan dalam hatimu : “Aku tidak tahu bisa jadi dia akan masuk islam, lalu menyudahi seluruh amalannya dengan amal shalih, dan bisa jadi aku terjerumus menjadi kafir, lalu menyudahi seluruh amalanku dengan amal yang buruk”. ( Nauzubillahi min zalik)

Dalam pandangan islam semua manusia itu sama, tidak dibeda-bedakan karena status sosial, harta, tahta, keturunan, atau latar belakang pendidikannya. Manusia yang paling mulia derajatnya disisi Allah adalah yang paling tinggi kadar ketakwaannya diantara mereka.

Rendahkanlah diri di hadapan-Nya, rendahkanlah hati di hadapan sesama

***

Barakallahu lana

Senin, 10 Desember 2012

Beberapa Lontaran Pertanyaan Imam Ghozali

suatu hari, Imam Al-Ghazali berkumpul dengan murid-muridnya lalu beliau bertanya :

Pertanyaan pertama

Imam Ghazali : Apakah yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?

Lalu beberapa orang murid menjawab:
Murid 1 : Orang tua
Murid 2 : Guru
Murid 3 : Teman
Murid 4 : Kaum kerabat

Imam Ghazali : Semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita ialah MATI. Sebab setiap yang bernyawa pasti akan mati ( Surah Ali-Imran:185) .

Pertanyaan kedua

Imam Ghazali : Apa yang paling jauh dari kita di dunia ini ?
Lalu beberapa orang murid menjawab:

Murid 1 : Negeri Cina
Murid 2 : Bulan
Murid 3 : Matahari
Murid 4 : Bintang-bintang

Iman Ghazali : Semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling benar adalah MASA LALU. Bagaimanapun kita, apapun keadaan kita, tetap kita tidak akan dapat kembali ke masa yang lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini, hari esok dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama.

Pertanyaan ketiga

Imam Ghazali : Apa yang paling besar didunia ini ?

Lalu beberapa orang murid menjawab:

Murid 1 : Gunung
Murid 2 : Matahari
Murid 3 : Bumi

Imam Ghazali : Semua jawaban itu benar, tapi yang besar sekali adalah HAWA NAFSU (Surah Al A’raf: 179). Maka kita harus hati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu kita membawa ke neraka .

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk neraka jahanam banyak dari jin dan manusia yang mempunyai hati (tetapi) tidak mau memahami dengannya (ayat-ayat Allah), dan yang mempunyai mata (tetapi) tidak mau melihat dengannya (bukti keesaan Allah) dan yang mempunyai telinga (tetapi) tidak mau mendengar dengannya (ajaran dan nasihat); mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi; mereka itulah orang-orang yang lalai. ” (Surah Al-A’raaf, Ayat 179)

Pertanyaan keempat

Imam Ghazali : Apa yang paling berat didunia ?

Lalu beberapa orang murid menjawab:

Murid 1 : Baja
Murid 2 : Besi
Murid 3 : Gajah


Imam Ghazali : Semua itu benar, tapi yang paling berat adalah MEMEGANG AMANAH (Surah Al-Azab : 72 ). Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, langit, bumi   dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka menjadi khalifah(pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya berebut-rebut menyanggupi permintaan Allah SWT sehingga banyak manusia masuk ke neraka karena gagal memegang amanah.’

Pertanyaan kelima
Imam Ghazali : Apa yang paling ringan di dunia ini ?

Lalu beberapa orang murid menjawab:

Murid 1 : Kapas
Murid 2 : Angin
Murid 3 : Debu
Murid 4 : Daun-daun

Imam Ghazali : Semua jawaban kaliam itu benar, tapi yang paling ringan sekali didunia ini adalah MENINGGALKAN SOLAT. Gara-gara pekerjaan kita atau urusan dunia, kita tinggalkan solat. Na’uzubillahiminzaa lik.

Pertanyaan keenam

Imam Ghazali : Apa yang paling tajam sekali didunia ini ?

Murid- Murid dengan serentak menjawab : Pedang

Imam Ghazali : Itu benar, tetapi yang paling tajam sekali didunia ini adalah LIDAH MANUSIA . Karena melalui lidah, manusia dengan mudahnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri.

Jumat, 12 Oktober 2012

Kecintaan Abu Hurairah Kepada Ibundanya

Waktu kecil Abdusy Syams (hamba Matahari) sangat sayang kepada seekor anak kucing betina, yang dalam bahasa Arab disebut Hurairah. Sejak itu, dia dikenal dengan panggilan Abu Hurairah.
Setelah masuk Islam, Rasulullah SAW lebih suka memanggilnya Abu Hirr sebagai panggilan akrab, dan dia lebih suka panggilan itu. Abu Hirr artinya penyayang kucing jantan.
Namun,Rasulullah SAW kemudian mengganti namanya menjadi Abdur Rahman (hamba Allah yang Maha Penyayang).
Abu Hurairah RA berasal dari suku Daus dan dia masuk Islam melalui Thufail bin ‘Amir ad-Dausy, salah seorang pemimpin suku tersebut.
Setelah masuk Islam, pemuda Ad-Dausy ini pergi ke Madinah menemui Nabi dan berkhidmat untuk Rasulullah sepenuh hati. Dia tinggal bersama ahli shuffah di beranda Masjid Nabawi. Tiap waktu dia bisa shalat di belakang Nabi dan mendengarkan pelajaran berharga dari Nabi.
Abu Hurairah punya ibu yang sudah tua dan sangat disayanginya. Dia ingin ibunya memeluk Islam, tapi menolak bahkan mencela Rasulullah SAW. Abu Hurairah sangat sedih. Dia pergi menemui Rasulullah sambil menangis.
“Mengapa engkau menangis, wahai Abu Hirra?” sapa Nabi. Abu Hurairah menjelaskan apa yang menyebabkan hatinya galau, sambil meminta Rasul mendoakan ibunya. Lalu Nabi berdoa agar ibu Abu Hurairah terbuka hatinya untuk menerima Islam.
Suatu hari Abu Hurairah menemui ibunya. Sebelum membuka pintu dia mendengar suara gemericik air, kemudian terdengar suara ibunya. “Tunggu di tempatmu, Nak!”
Setelah dipersilakan masuk, Abu Hurairah kaget tatkala ibunya langsung menyambut dengan ucapan dua kalimat syahadat. Alangkah bahagianya Abu Hurairah, keinginannya tercapai. Segera dia kembali menemui Rasulullah. “Dulu aku menangis karena sedih, sekarang aku menangis karena gembira.”
Abu Hurairah sangat menyayangi ibunya, terlebih setelah ibunya masuk Islam. Dia selalu hormat dan berbakti kepada ibunya. Setiap akan pergi meninggalkan rumah dia berdiri lebih dahulu di depan pintu kamar ibunya mengucapkan salam, “Assalamu ‘alaiki wa rahmatullah wa barakatuh, ya ummah!”
Ibunya menjawab dengan lembut, “Wa ‘alaikas salam wa rahmatullahi wa barakatuh, ya bunayya.”
Kemudian, Abu Hurairah mendoakan ibunya, “Rahimakillahu kama rabbay tini shaghira” (semoga Allah mengasihi ibu sebagaimana ibu merawatku waktu kecil).”
Ibunya membalas doa putranya dengan doa yang tidak kalah indahnya, “Wa rahimakallahu kama barartani kabira” (semoga Allah mengasihimu sebagaimana engkau berbuat baik kepadaku setelah engkau dewasa).
Abu Hurairah aktif mengajak orang lain agar memuliakan dan berbuat baik dan menyayangi kedua orang tua. Suatu hari dia melihat dua orang berjalan bersama, yang satu lebih tua dari lainnya. Abu Hurairah bertanya kepada yang muda, siapa orang tua ini? “Bapakku,” jawab anak muda itu.
Lalu Abu Hurairah menasihatinya. “Janganlah engkau memanggilnya dengan menyebut namanya. Jangan berjalan di hadapannya. Dan jangan duduk sebelum dia duduk lebih dahulu.” Begitulah, sisi lain Abu Hurairah, yang sangat sayang kepada ibunya dan hormat kepada yang lebih tua.

Sumber : www.sarkub.com oleh : KH. Munahar Ilyasis

Jumat, 20 Juli 2012

Sampaikanlah Kami Kepada Bulan Ramadhan

Ramadhan di depan mata, tapi kalau Allah berkehendak lain tak ada yang mampu menolak takdir sang maha kuasa. Subuh pagi tadi berkumandang adzan di masjid dekat saya tinggal. Setelah itu, ada suara pengumuman yang mengisyaratkan pengumuman orang yang meninggal dunia. “inna lillahi wa inna ilahi raji’un 3x, telah meninggal dunia bapak… pada jam…" (agak samar-samar suaranya. Entah mikrofonnya yang kurang bagus atau pendengaran saya yang agak bermasalah.hehehe). Usai shalat subuh, ibuku bertanya kepadaku "tadi, kayaknya ada tersiar pengumuman orang meninggal, siapa yang meninggal le?". Aku jawab saja "iya bu' tapi aku kurang faham siapa yang meninggal itu". Setelah mentari terlihat terang, ibuku keluar rumah dan bertanya-tanya kepada tetangga “tadi subuh, siapa yang diumumkan meninggal dunia?”. Salah seorang tetangga menjawab “ mas harno bu…”. Sontak ibuku kaget karena  nama yang disebutkan itu, usianya jauh dibawah ibuku. “inna lillahi wa inna ilahi raji’un, Ya Allah... padahal besok tinggal memasuki Ramadhan tapi ajal sudah menjemput” ucap ibuku dengan kejiwaan yang masih kaget.



~*~


Dari kejadian kali ini, saya termenung bahwa memang kematian bisa menjemput siapa saja tidak pandang bulu ( jangan menginterpretasikan bulu-bulu yang lain ya…hehe). Ajal bisa menjemput siapa saja, entah itu anak kecil, masih muda dan unyu-unyu seperti saya (narsis.haha) ataupun orang yang lanjut usia. Kalau memang sudah “titi wancine” kata orang jawa, maka ajal tak dapat tertolak. Allah s.w.t. berfirman dalam surat al-a'raf : 36

ولكل أمة اجل فاذا جاء اجلهم لا يستأخرون ساعة ولا يستقدمون

“Tiap-tiap umat mempunyai batas ajal. Maka apabila telah datang ajalnya mereka tidak dapat mengundurnya barang sesaat pun dan tidak dapat pula memajukannya”
Kematian memang sebuah misteri, tak ayal jika rasulullah s.a.w., memanjatkan do'a dalam sebuah hadits yang tak asing ditelinga kita
اللهم بارك لنا في رجب وشعبان وبلغنا رمضان

"Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dab Sya'ban dan sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan" (HR. Thabrani dan Baihaqi)
Semoga kita benar-benar sampai pada bulan ramadhan yang tinggal hitungan jam ini. Bulan yang dimana sebagai momentum bengkel jiwa guna memperbaiki mutu ketaqwaan dan ketunduaan kepada sang khaliq.


Senin, 09 Juli 2012

Malaikat Jibril Terobsesi menjadi Manusia

Ketaatan dan ibadah bagi malaikat adalah sifat asli mereka (jibillah) sebagaimana Allah mensifati mereka pada surat At-Tahrim ayat 6.
لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
“Tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” Dibalik ketaatannya tersebut, Malaikat jibril menyimpan sejuta harapan dan keinginan supaya dia menjadi manusia. Benarkah demikian? Alasan apa yang melatar belakangi obsesi Malaikat Jibril tersebut?
Di dalam kitab Washiyatul Mushtafa, Rasulullah saw. memberikan nasehat yang berharga kepada menantunya yakni Ali bin Abi Thalib r.a.
يَا عَلِىُّ! تَمَنَّى جِبْرِيْلُ اَنْ يَكُوْنَ مِنْ بَنِى اَدَمَ لِسَبْعِ خِصَالٍ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ مَعَ الْاِمَامِ وَ مُجَالَسَةِ الْعُلَمَاءِ وَعِيَادَةِ المَرِيْضِ وَتَشْيِيْعِ الجَنَازَةِ وَسَقْىِ الْماءِ وَالصُّلْحِ بَيْنَ الْاِثْنَيْنِ وَاِكْرَامِ الْجَارِ وَالْيَتِيْمِ
Wahai Ali! Malaikat Jibril memiliki obsesi untuk menjadi Manusia disebabkan 7 hal:
1. Shalat 5 waktu dengan berjamaah
2. Duduk bersama ulama
3. Menjenguk orang sakit
4. Mengiring jenazah
5. Memberi minum kepada orang lain
6. Mendamaikan dua orang
7. Memuliakan tetangga dan anak yatim 
Dari uraian tersebut, mungkin tertanam sebuah pertanyaan: Kok bisa-bisanya Malaikat Jibril memiliki keinginan tersebut? Bukankah malaikat itu makhluk yang tidak memiliki nafsu?
hmm.... Lafadz تمنى pada redaksi wasiat tersebut, bukanlah bentuk nafsu atau syahwat dari Malaikat Jibril, Akan tetapi itu hanyalah bentuk motivasi supaya anak turun Nabi Adam lebih mensyukuri keberadaanya, bahwasanya kedudukan anak adam itu bisa jauh melebihi malaikat jikalau mereka benar-benar mengamalkan apa yg disyariatkan.
 Wallahu a’lam



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

komentar terbaru