Subscribe:

Pages

Tampilkan postingan dengan label Tausiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tausiyah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 Januari 2014

Wafatnya Ulama Bencana Bagi Alam Semesta

Dalam kitab Tanqih al-Qaul, al-Imam al-Hafidz Jalaluddin bin Abdurrahman bin Abubakar as-Suyuthi menuliskan dalam kitabnya sebuah hadits bahwa Rasulullah Saw. bersabda:

وقال عليه الصلاة والسلام: {مَنْ لَمْ يَحْزَنْ لِمَوْتِ العَالِمِ، فَهُوَ مُنَافِقٌ مُنَافِقٌ مُنَافِقٌ} قالها ثلاث مرات
“Barangsiapa yang tidak sedih dengan kematian ulama maka dia adalah munafik.”

Menangislah, karena meninggalnya seorang ulama adalah sebuah perkara yang besar di sisi Allah. Sebuah perkara yang akan mendatangkan konsekuensi bagi kita yang ditinggalkan jika kita ternyata bukan orang-orang yang senantisa mendengar petuah mereka. Menangislah, jika kita ternyata selama ini belum ada rasa cinta di hati kita kepada para ulama.

عن ابن عباس ، في قوله تعالى : أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا نَأْتِي الأَرْضَ نَنْقُصُهَا مِنْ أَطْرَافِهَا سورة الرعد آية 41 قال : موت علمائها . وللبيهقي من حديث معروف بن خربوذ ، عن أبي جعفر ، أنه قال : موت عالم أحب إلى إبليس من موت سبعين عابدا .
Ibnu Abbas Ra. berkata tentang firman Allah: “Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami mendatangi daerah-daerah, lalu Kami kurangi daerah-daerah itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya?” (QS. ar-Ra’d ayat 41). Beliau mengatakan tentang (مِنْ أَطْرَافِهَا = dari tepi-tepinya) adalah wafatnya para ulama.”

Dan menurut Imam Baihaqi dari hadits Ma’ruf bin Kharbudz dari Abu Ja’far Ra. berkata: “Kematian ulama lebih dicintai Iblis daripada kematian 70 orang ahli Ibadah.”

Al-Quran secara implisit mengisyaratkan wafatnya ulama sebagai sebuah penyebab kehancuran dunia, yaitu firman Allah Swt. yang berbunyi:

أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا نَأْتِي الأرْضَ نَنْقُصُهَا مِنْ أَطْرَافِهَا وَاللَّهُ يَحْكُمُ لا مُعَقِّبَ لِحُكْمِهِ وَهُوَ سَرِيعُ الْحِسَابِ
“Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami mendatangi daerah-daerah, lalu Kami kurangi daerah-daerah itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya?” (QS. ar-Ra’d ayat 41).

Menurut beberapa ahli tafsir seperti Ibnu Abbas dan Mujahid, ayat ini berkaitan dengan kehancuran bumi (kharab ad-dunya). Sedangkan kehancuran bumi dalam ayat ini adalah dengan meninggalnya para ulama. (Tafsir Ibnu Katsir juz 4 halaman 472).

Rasulullah Saw. yang menegaskan ulama sebagai penerusnya, juga menegaskan wafatnya para ulama sebagai musibah. Rasulullah Saw. bersabda:

مَوْتُ الْعَالِمِ مُصِيبَةٌ لا تُجْبَرُ ، وَثُلْمَةٌ لا تُسَدُّ , وَنَجْمٌ طُمِسَ ، مَوْتُ قَبِيلَةٍ أَيْسَرُ مِنْ مَوْتِ عَالِمٍ
“Meninggalnya ulama adalah musibah yang tak tergantikan, dan sebuah kebocoran yang tak bisa ditambal. Wafatnya ulama laksana bintang yang padam. Meninggalnya satu suku lebih mudah bagi saya daripada meninggalnya satu orang ulama.” (HR. ath-Thabarani dalam Mu’jam al-Kabir dan al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman dari Abu Darda).

Wafatnya Ulama Adalah Hilangnya Ilmu

Umat manusia dapat hidup bersama para ulama adalah sebagian nikmat yang agung selama di dunia. Semasa ulama hidup, kita dapat mencari ilmu kepada mereka, memetik hikmah, mengambil keteladanan dan sebagainya. Sebaliknya, ketika ulama wafat, maka hilanglah semua nikmat itu. Hal inilah yang disabdakan oleh Rasulullah Saw.:

خُذُوا الْعِلْمَ قَبْلَ أَنْ يَذْهَبَ ” ، قَالُوا : وَكَيْفَ يَذْهَبُ الْعِلْمُ يَا نَبِيَّ اللَّهِ، قَالَ:إِنَّ ذَهَابَ الْعِلْمِ أَنْ يَذْهَبَ حَمَلَتُهُ
“Ambillah (pelajarilah) ilmu sebelum ilmu pergi.” Sahabat bertanya: “Wahai Nabiyullah, bagaimana mungkin ilmu bisa pergi (hilang)?” Rasulullah Saw. menjawab: “Perginya ilmu adalah dengan perginya (wafatnya) orang-orang yang membawa ilmu (ulama).” (HR. ad-Darimi, ath-Thabarani no. 7831 dari Abu Umamah).

Wafatnya ulama juga memiliki dampak sangat besar, diantaranya munculnya pemimpin baru yang tidak mengerti tentang agama sehinga dapat menyesatkan umat, sebagaimana dalam hadits sahih:

إن الله لا يقبض العلم انتزاعا ينتزعه من الناس ، ولكن يقبض العلم بقبض العلماء حتى إذا لم يترك عالما اتخذ الناس رءوسا جهالا فسئلوا فأفتوا بغير علم فضلوا وأضلوا
“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dari hambaNya, tetapi mencabut ilmu dengan mencabut para ulama. Sehingga ketika Allah tidak menyisakan satu ulama, maka manusia mengangkat pemimpin-pemimpin bodoh, mereka ditanya kemudian memberi fatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. Bukhari no. 100).

Kendatipun telah banyak kyai atau ulama yang telah wafat, dan wafatnya kyai atau ulama adalah sebuah musibah dalam agama, maka harapan kita adalah lahirnya kembali ulama yang meneruskan perjuangannya. Aamiin

Harapan ini sebagaimana yang dikutip oleh Imam al-Ghazali dari Khalifah Ali bin Abi Thalib Ra.:

إذا مات العالم ثلم في الإسلام ثلمة لا يسدها الا خلف منه
“Jika satu ulama wafat, maka ada sebuah lubang dalam Islam yang tak dapat ditambal kecuali oleh generasi penerusnya.” (Ihya ‘Ulumiddin juz 1 halaman 15).

Wallahu a’lam bi ash-Shawab.

www.muslimedianews.com

Kamis, 16 Januari 2014

Empat Ajakan Habib Syech di Bulan Maulid

gambar
Semarang, NU Online
Habib Syech bin Abdul Qadir Assegaf dalam perayaan Mauilid Nabi di Meteseh, Semarang, Jawa Tengah, Senin (13/1), menyampaikan empat poin penting yang hendaknya diperhatikan jamaah yang hadir.

Ia mengajak, pertama, ketika memanggil Nabi hendaknya tidak njangkar (langsung memanggil namanya). Panggillah Nabi dengan sapaan kehormatan sebagaimana para ulama contohkan, misalnya sayyidina, maulana, habibina, qurrati a’yun, syafi’ina dan sebagainya.

“Allah saja memanggil Nabi tidak njangkar, misalnya ya ayyuhal muddatstsir, ya ayyuhal muzzammil, ya ayuhan nabiyyu, dan lain sebagainya,” tutur Habib Syech.

Kedua, Habib asal Solo ini mengajak untuk memperbanyak shalawat karena di dalamnya terdapat keistimewaan. Menurut dia, shalawat mampu membuat jiwa menjadi tenang dan terjaga dari musibah dan marabahaya.

Ketiga, ia mengajak kepada jamaah untuk menjadi manusia yang bermanfaat, di antaranya berkecimpung dalam kemaslahatan masyarakat, semisal ikut gabung organisasi Nahdhatul Ulama, terangnya sembari membaca hadits populer khoirunnas anfa'uhum linnas (sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya).

Keempat, Habib Syech juga berpesan supaya menjaga kesucian maulid dengan membersihkan diri dari perbuatan maksiat. Dia menyebut, berbuat maksiat sama saja dengan merobohkan benteng maulid.

“Banyak sekali yang bersemangat mengikuti maulid tapi shalat subuhnya telat, ini namanya merobohkan benteng. Jauh-jauh datang untung mengikuti maulid namun saat pulang gonceng-goncengan lanang wadon (boncengan laki-laki dan perempuan), ini namanya merusak benteng pertahanan,” pungkasnya. (Penulis : Asnawi Lathif/ Redaktur: Mahbib)

Embah Maemun Zubair Sebut 3 Model Penghafal Al-Qur'an

Rembang, NU Online
Para penghafal Al-Quran memiliki kecenderungan berbeda-beda. Mereka yang menghafal Al-Quran tidak selalu saleh. Mustasyar PBNU KH Maemun Zubair menyebutkan sedikitnya 2 jenis kecenderungan watak mereka di samping kecenderungan pertama.

Dalam acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan harlah ke-47 Pesantren Al-Anwar yang diselenggarakan Himpunan Mutakharijin Mutakharijat Al-Anwar (HIMMA), tiga kecenderungan penghafal Al-Qur’an menjadi bahasan ceramah Embah Maemun.

“Pertama, dzalimun li nafsih ialah penghafal Al-Qur’an namun dzalim (menganiaya) terhadap diri sendiri dengan tindakan maksiatnya. Kedua, Muqtashid ialah penghafal Al-qur’an dengan jumlah dan mutu amal ibadahnya sedang-sedang saja,” terang Embah Mun, Kamis (9/1).

Sedangkan yang ketiga, sabiqun bil khairat. Mereka ialah penghafal yang sukses mengkaji Al-Qur’an, mengamalkan, mengajarkan, dan membimbing orang lain untuk mengamalkan Al-Qur’an, sebut Embah Maemun di hadapan ribuan santrinya.

Kendati demikian, Allah menyediakan ganjaran surga ‘Adn yang berisi perhiasan berupa gelang-gelang emas dan mutiara. Mereka akan mengenakan pakaian sutra.

“Namun melalaikan hafalan qur’an adalah dosa besar” pesan Embah Maemun kepada para hadirin yang diikuti pembacaan surat Al-Fathir ayat 32-33.

Menurut Kiai Maemun, banyak sahabat Rasul yang tidak hafal 30 juz Al-Quran. Tetapi mereka menghafal al-Baqarah disertai pemahaman maknanya dengan penuh resapan. Sedangkan di zaman sekarang banyak orang menghafal 30 juz namun sedikit ayat bahkan mungkin tidak satupun ayat yang dipahami dan diresapi maknanya, pungkas Embah Maemun. (Asnawi Lathif/Alhafiz K)

Jumat, 06 Desember 2013

Tips Meredam Amarah

Ada Beberapa Tips meredam amarah dalam kitab ihya' ulumuddin karya Imam Ghazali 
الأول أن يتفكر في الأخبار التي سنوردها في فضل كظم الغيظ والعفو والحلم والاحتمال فيرغب في ثوابه 
gambar
Pertama : Bertafakur dengan hadits-hadits tentang kelebihan orang yang mampu menahan amarah, sebagiannya “hai anak adam, ingatlah Aku ketika marah, Aku akan mengingatmu saat marah maka tidak akan Aku hapus engkau dalam golongan orang-orang yang Aku hapus”
الثاني أن يخوف نفسه بعقاب الله  
Kedua :Menakuti diri kita sendiri akan siksaan Allah bagi orang pemarah
الثالث أن يحذر نفسه عاقبة العداوة والانتقام وتشمر العدو لمقابلته والسعي في هدم أغراضه والشماتة بمصائبه وهو لا يخلو عن المصائب فيخوف نفسه بعواقب الغضب في الدنيا إن كان لا يخاف من الآخرة 
Ketiga : Mengingatkan dirinya sendiri akan dampak permusuhan karena bisa saja akan berdampak menimbulkan musibah di dunia pada diri sendiri bila ia tidak takut akan dampak marah saat di akhirat kelak
الرابع أن يتفكر في قبح صورته عند الغضب بأن يتذكر صورة غيره في حالة الغضب ويتفكر في قبح الغضب في نفسه 
Keempat : Melihat jeleknya marah, dengan cara mengingat orang lain saat marah, bararti kitapun kalau marah juga jelek
الخامس أن يتفكر في السبب الذي يدعوه إلى الانتقام ويمنعه من كظم الغيظ 
Kelima : Mengingat-ingat kembali hal yang menjadikan kita marah dan bisa menghilangkan sabar kita
السادس أن يعلم أن غضبه من تعجبه من جريان الشيء على وفق مراد الله لا على وفق مراده فكيف يقول مرادي أولى من مراد الله ويوشك أن يكون غضب الله عليه أعظم من غضبه 
Keenam : Mencoba menyadari bahwa marah sebenarnya adalah keinginan agar yang dikehendaki sesuai dengan kehendak Allah, bukankah artinya kita akan memaksakankehendak kita diatas kehendak Allah ?
وأما العمل فأن تقول بلسانك أعوذ بالله من الشيطان الرجيم هكذا أمر رسول الله صلى الله عليه و سلم أن يقال عند الغيظ 
Saat marah, lisan kita membaca ta'awwudz sebagaimana yang diperintahkan oleh Rasulullah.

Minggu, 24 November 2013

Enaknya Curhat Sama Siapa Ya?

Pagi-pagi belajar kitab nashoihul ibad sob... biar nambah ilmu n hidup kita makin berkah. Yuk.....1,...2,....3.....
bismillahirrahmanirrahim
Maqolah31

Diriwayatkan dari Nabi SAW, sesungguhnya Beliau bersabda, “Barang saiapa yang pada waktu pagi hari (memasuki waktu subuh) dalam keadaan mengadu kepada manusia tentang kesulitan hidupnya, maka seakan-akan ia telah mengadukan Tuhannya.
 

“Sesungguhnya pengaduan selayaknya hanya kepada Allah karena pengaduan kesulitan hidup kepada Allah termasuk do’a. adapun mengadu kepada manusia menunjukkan tidak adanya ridha dengan pembagian Allah Ta’ala sebagaimana diriwayatkan dari AbdiLlah bin Mas’ud RA, telah bersabda RasuluLlah SAW, “Maukah kamu semua aku ajari sebuah kalimat yang diucapkan Musa AS ketika melintasi lautan bersama bani israil ?“.
 gambar
Kami semua menjawab ,”Baik Yaa RasuluLlah”.
RasuluLlah SAW bersabda,”Ucapkanlah kalimat ‘Allahumma laKal hamdu wa ilaiKal Musytakay wa Antal Musta’aan wa laa haula walaa quwwata illa biLlahil ‘Aliyyil ‘Adhiim” (Yaa Allah segala puji hanya untuk-Mu, dan hanya kepadamulah tempat mengadu, dan Engkaulah Penolong dan tiada daya upaya dan kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah Dzat Yang Maha Tinggi dan Maha Agung. Maka berkatalah Al-A’masy, Tidaklah kami pernah meninggalkan membaca kalimat tersebut sejak kami mendengarnya dari Syaqiq Al-Asady Al kuufy.

Barang siapa pada waktu pagi hari berduka atas perkara duniawi, maka sesungguhnya ia telah marah kepada tuhannya. Artinya, barang siapa yang bersedih karena urusan dunia, sesungguhnya ia telah marah kepada Tuhannya, karena ia tidak ridha dengan qadha’ (takdir Allah) dan tidak bersabar atas cobaan-Nya dan tidak beriman dengan kekuasaan-Nya. Karena sesungguhnya apa saja yang terjadi di dunia ini adalah atas qadha Ilahi Ta’ala dan atas kekuasaan-Nya.

Dan barang siapa yang merendahkan diri kepada orang kaya karena melihat kekayaannya, maka hilanglah 2/3 agamanya. Artinya bahwa disyari’atkannya penghormatan manusia kepada orang lain adalah karena alasan kebaikan dan ilmunya bukan karena kekayaannya. Karena sesungguhnya orang yang memuliakan harta, sesungguhnya ia telah menyia-nyiakan ilmu dan amal shaleh.

Telah berkata Sayyidy Syaikh Abdul qadir Al-Jailany RA, “Tidak boleh tidak bagi seorang muslim pada setiap keadaannya selalu dalam tiga keadaan, yang pertama melaksanakan perintah, kedua menjauhi larangan, dan ketiga ridha dengan pembagian Tuhan.” Dan kondisi minimal bagi seorang mukmin adalah tidak terlepas dari salah satu dari tiga keadaan tersebut di atas, 

Semoga bermanfaat bagi saya pribadi dan para pembaca. Amin...

Jumat, 21 Desember 2012

Jadilah Manusia Rendah Namun Tidak Rendahan

mundut gambar
Imam, Ali r.a pernah berkata :
1. Jadilah manusia yang paling BAIK disisi Allah
2. Jadilah manusia yang paling BURUK dalam pandangan dirimu
3. Jadilah manusia BIASA dalam pandangan Orang lain

Syeh Abdul Qadir Jaelani berkata : “ Bila engkau bertemu dengan seseorang , hendaknya engkau memandang dia itu lebih utama daripada dirimu dan katakan dalam hatimu :
“Boleh jadi dia lebih baik disisi Allah daripada diriku ini dan lebih tinggi derajatnya.

Jika orang yang lebih kecil dan lebih muda umurnya daripada dirimu , maka katakanlah dalam hatimu : “ Boleh jadi orang kecil ini tidak banyak berbuat dosa kepada Allah, sedangkan aku adalah orang yang telah banyak berbuat dosa , maka tidak diragukan lagi kalau derajat dirinya jauh lebih baik daripada aku.”

Bila dia orang yang lebih tua , hendaknya engkau mengatakan dalam hati :”Orang ini telah lebih dahulu beribadah kepada Allah daripada diriku”.

Jika dia orang ‘Alim , maka katakan dalam hatimu :” Orang ini telah diberi oleh Allah sesuatu yang tidak bisa aku raih, telah mendapatkan apa yang tidak bisa aku dapatkan, telah mengetahui apa yang tidak aku ketahui, dan telah mengamalkan ilmunya”.

Bila dia Orang Bodoh, maka katakan dalam hatimu : Orang ini
durhaka kepada Allah karena kebodohannya, sedangkan aku durhaka kepada –NYA , padahal aku mengetahuinya. Aku tidak tahu dengan apa umurku akan Allah akhiri atau dengan apa umur orang bodoh itu akan Allah akhiri (apakah dengan husnul khaitimah atau Su’ul khatimah).

Bila dia orang kafir , maka katakan dalam hatimu : “Aku tidak tahu bisa jadi dia akan masuk islam, lalu menyudahi seluruh amalannya dengan amal shalih, dan bisa jadi aku terjerumus menjadi kafir, lalu menyudahi seluruh amalanku dengan amal yang buruk”. ( Nauzubillahi min zalik)

Dalam pandangan islam semua manusia itu sama, tidak dibeda-bedakan karena status sosial, harta, tahta, keturunan, atau latar belakang pendidikannya. Manusia yang paling mulia derajatnya disisi Allah adalah yang paling tinggi kadar ketakwaannya diantara mereka.

Rendahkanlah diri di hadapan-Nya, rendahkanlah hati di hadapan sesama

***

Barakallahu lana

Senin, 09 Juli 2012

Malaikat Jibril Terobsesi menjadi Manusia

Ketaatan dan ibadah bagi malaikat adalah sifat asli mereka (jibillah) sebagaimana Allah mensifati mereka pada surat At-Tahrim ayat 6.
لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
“Tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” Dibalik ketaatannya tersebut, Malaikat jibril menyimpan sejuta harapan dan keinginan supaya dia menjadi manusia. Benarkah demikian? Alasan apa yang melatar belakangi obsesi Malaikat Jibril tersebut?
Di dalam kitab Washiyatul Mushtafa, Rasulullah saw. memberikan nasehat yang berharga kepada menantunya yakni Ali bin Abi Thalib r.a.
يَا عَلِىُّ! تَمَنَّى جِبْرِيْلُ اَنْ يَكُوْنَ مِنْ بَنِى اَدَمَ لِسَبْعِ خِصَالٍ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ مَعَ الْاِمَامِ وَ مُجَالَسَةِ الْعُلَمَاءِ وَعِيَادَةِ المَرِيْضِ وَتَشْيِيْعِ الجَنَازَةِ وَسَقْىِ الْماءِ وَالصُّلْحِ بَيْنَ الْاِثْنَيْنِ وَاِكْرَامِ الْجَارِ وَالْيَتِيْمِ
Wahai Ali! Malaikat Jibril memiliki obsesi untuk menjadi Manusia disebabkan 7 hal:
1. Shalat 5 waktu dengan berjamaah
2. Duduk bersama ulama
3. Menjenguk orang sakit
4. Mengiring jenazah
5. Memberi minum kepada orang lain
6. Mendamaikan dua orang
7. Memuliakan tetangga dan anak yatim 
Dari uraian tersebut, mungkin tertanam sebuah pertanyaan: Kok bisa-bisanya Malaikat Jibril memiliki keinginan tersebut? Bukankah malaikat itu makhluk yang tidak memiliki nafsu?
hmm.... Lafadz تمنى pada redaksi wasiat tersebut, bukanlah bentuk nafsu atau syahwat dari Malaikat Jibril, Akan tetapi itu hanyalah bentuk motivasi supaya anak turun Nabi Adam lebih mensyukuri keberadaanya, bahwasanya kedudukan anak adam itu bisa jauh melebihi malaikat jikalau mereka benar-benar mengamalkan apa yg disyariatkan.
 Wallahu a’lam



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

komentar terbaru